-->
Gy3ZRPV8SYZ53gDjSFGpi7ej1KCaPY791pMbjB9m
Bookmark

Pengertian, Dalil, Manfaat Dan Contoh Sifat Bijaksana

Bijaksana artinya selalu menggunakan akal budinya dengan berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya, arif, atau tajam pikiran. Bijaksana dapat berarti pandai dan hati-hati, cermat, teliti, dan sebagainya. 
al hajjar al aswad
Bijaksana adalah suatu kecakapan menggunakan akal budinya apabila menghadapi kesulitan. Bijaksana dapat pula diartikan menyelesaikan masalah berdasarkan kebenaran dan tidak hanya mengikuti keinginan hawa nafsu saja.

Umat Islam diperintahkan oleh Allah Swt. agar bersifat bijaksana. Artinya ketika hendak melakukan sesuatu dipikirkan terlebih dahulu dengan cermat agar tidak terjerumus kepada kesalahan. Karena itu, umat Islam tidak boleh bersifat tergesa-gesa karena tergesa-gesa itu perbuatan setan. Dan setan selalu mendorong manusia untuk berbuat buruk.

Cara untuk bersikap bijaksana dalam kehidupan sehari-hari dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui:
  1. Perenungan dengan upaya mengerti dan menghayati pentingnya sikap bijaksana
  2. Meniru dari contoh sikap bijaksana yang dilakukan oleh nabi Muhammad saw., seperti: sikap nabi ketika mengembalikan Hajar Aswad ke tempat semula.
  3. Mengamalkan dan membiasakan dalam kehidupan sehari-hari

Dalil tentang bijaksana

Ada beberapa dalil yang memerintahkan kepada umat Islam untuk bersikap bijaksana

Manfaat sifat bijaksana

Umat Islam yang memiliki sikap bijaksana, akan memperoleh manfaat yang banyak sekali, antara lain:
  1. Dapat terlaksana suatu undang-undang, karena orang yang bijaksana selalu berbuat sesuai undang-undang sehingga terwujud keselarasan hidup bagi masyarakat
  2. Dapat mewujudkan sikap disiplin Disiplin berarti berbuat sesuai aturan yang berlaku sehingga seseorang yang bijaksana berarti telah bersikap disiplin
  3. Dapat menegakkan sesuatu yang haq (benar) karena perilaku bijaksana akan menimbulkan kebaikan dan kebaikan akan menghasilkan kebenaran
  4. Dapat melaksanakan kewajiban, karena orang yang bijaksana selalu mengutamakan pelaksanaan kewajiban
  5. Dapat mewujudkan sikap adil, karena orang yang bijaksana secara otomatis bersikap adil. Keduanya merupakan sifat yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan

Contoh sifat bijaksana

Masih ingatkah kalian peristiwa pemberian gelar “al-Amiin” kepada Nabi Muhammad Saw.? Ketika Nabi Muhammad Saw. berumur 35 tahun telah terjadi perombakan banguan Ka’bah oleh pemuka-pemuka quraisy. 

Namun dalam hal meletakan hajar aswad ke tempat semula, terjadi perselisihan siapa yang lebih berhak meletakan hajar aswad ke tempat semula tersebut. Sehingga terjadilah pertikaian dan pertengkaran dalam persoalan ini.

Dalam keadaan demikian, datanglah Rasulullah Saw. dan memberikan ide cemerlang. Nabi berkata, “Bagaimana kalau siapa yang lebih dahulu besok pagi memasuki masjid ini maka dialah yang berhak meletakan Hajar Aswad itu ketempat semula”. Para pemuka Quraisy menyepakati usulan Nabi tersebut.

Dan ternyata yang datang pertama kali ke masjid adalah Nabi Muhammad Saw. Berarti Nabi Muhammad Saw. yang berhak memindahkan Hajar Aswad tersebut ke tempat semula.

Untuk menghindari terjadi permusuhan diantara mereka, Nabi Muhammad Saw. tidak mau memindahkan sendiri. Sebaliknya Nabi Muhammad Saw. mengajak kepada semua pemuka kaum Quraisy itu untuk terlibat. 

Sehingga Nabi membentangkan kain sorbannya yang berukuran empat persegi tersebut, kemudian diletakan Hajar Aswad diatas serbannya dan disuruh oleh Nabi agar empat orang pemuka Quraisy masing-masing memegang sudut serban dan mengangkat secara bersama-sama ketempat semula dan setelah Hajar Aswad berada di dekat tempatnya, barulah Nabi yang mengangkat dan meletakan Hajar Aswad ditempat semula.

Subhanallah, inilah contoh sikap bijaksana yang harus dicontoh oleh umat Islam. Karena dengan cara yang dilakukan oleh Nabi tersebut, para pemuka Quraisy merasa ikut berjasa dan tidak ada yang merasa ditinggalkan sehingga dapat terhindar dari sikap permusuhan diantara mereka. Akhirnya mereka sepakat memberikan julukan kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai “al- Amiin”, artinya orang yang jujur, benar dan bijaksana.
Post a Comment

Post a Comment